Powered by Blogger.

THE BEAUTIFUL FROG

    • Home
    • Travel
    • Stories
    Hari ketiga ini kita akan kembali ke Zlin. Bus akan berangkat pk.10:40. Pagi-pagi kita udah siap dan pamitan sama penghuni kamar lainnya. Setelah sarapan, kita langsung berangkat ke The Prater. Kita emang berencana nggak mau masuk ke dalam The Prater ini. Alasanya? Mahal! Selain mahal sepertinya kurang cocok untuk anak muda karena bianglala tua ini bakalan ngebosenin. Sama halnya seperti bianglala yang di Singapura itu loh...

    Tidak terlalu menarik....


    Dari Schottenring kita naik line warna ungu ke Praterstern. Turun dari Praterstern tinggal jalan lurus sedikit dan akan meliaht si The Prater itu. Ternyata The Prater ini juga tutup karena masih pagi. Kita cuma foto-foto aja sih habis itu langsung lanjut ke Toko Sederhana. Toko Sederhana adalah salah satu toko bahan makanan Indonesia yang ada di Vienna ini.

    Tujuan utama adalah nge-stok beberapa indomie, dan bahan masak yang selama ini nggak ada di Zlin seperti tepung sagu, royko, sambal balado, dan lain-lain.

    Toko ini letaknya tidak jauh dari The Prater tapi kalau mau langsung ke toko ini mendingan turun di Messe-Prater. Lokasinya ada di sebelah supermarket BILLA. Tapi hati-hati karena di dekat-dekat sana juga ada BILLA lain.




    Sesampainya di Toko Sederhana, begitu buka pintu langsung terdengar suara wanita yang sedang telfon dalam bahasa Jawa. Hal itu nggak mungkin terjadi di Zlin... hahaha

    Kitapun langsung borong belanja dan ketika di kasir kita sedikit ngobrol-ngobrol sama sipemilik toko. Ternyata dia orang asli Malang dan pindah ke Bali bersama suaminya yang merupakan orang Austria.  Berhenti bisnis di Bali, mereka pun pindah ke Austria dan memulai hidup disana. Pemilik toko ini sudah 5 tahun tinggal di Austria. Bukan main ya...

    Sedikit info aja, harga makanan di toko ini emang nggak semurah di Indonesia tapi nggak mahal-mahal banget kok. Perbedaannya mungkin 5-15 ribu. Oh ya, ada juga semacam petai, ikan asin, sereh, pandan, dan lainnya dalam kemasan beku. Nah, khusus makanan-makanan beku ini, harganya lumayan mahal. Misalnya petai satu tempat makan sedang harganya 100ribu.

    Bijaklah memilih mana yang benar-benar butuh dan yang masi bisa ditoleransi supaya tidak berakhir kere di Eropa hahaha!

    Seusai puas berbelanja, kita langsung naik u-bahn dari Messe-Prater ke Stadion untuk naik bus kembali ke Zlin.


    Demikianlah perjalanan gue dan kedua teman gue ini. Kesan gue pribadi terhadap Vienna adalah

    -       Kotanya penuh dengan musik, bangunan tua, dan seni.
    -       Transportasi umumnya mudah dimengerti.
    -       Banyak orang Indonesia disana, seperti gue ketemu orang Indonesia pas di lampu merah dan pas sarapan pagi di Hostel.
    -       Mahal!
    Ya, segitu aja deh untuk postingan mengenai Vienna. Semoga terbantu ketika mau pergi kesana ya!

    Posting mengenai Vienna lainya :























    Continue Reading

    Hari kedua kita mulai dengan berangkat ke Schonbrunn palace. Naik kereta dari Schottenring line warna hijau sampai ke Schonbrunn. Keluar dari stasiun Schonbrunn kita langsung bisa melihat istana Schonbrunn ini. Tapi untuk menuju pintu masuk butuh jalan kaki sekitar 3-5 menit.

    Harga tiket dan lain-lain sudah tertera di website

    http://www.schoenbrunn.at/en.html

    Kita memilih imperial tour yang berisi tour ke 22 ruangan di istana. Untuk para pelajar bisa menggunakan kartu pelajar kalian untuk mendapat harga pelajar.

    Harga tiket masuk imperial tour ( student ) : 11.90 €





    Begitu masuk kalian yang membawa tas punggung harus dititipkan di tempat penitipan barang, sedangkan tas tangan boleh dibawa masuk. Sayangnya di dalam istana, pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto. Padahal pengen  foto terus masukin instagram kan....captionnya “ Home Sweet Home “ :p

    Setelah itu kalian boleh mengambil audio guide berbentuk seperti telfon wireless. Sepanjang tour kalian bisa menekan nomor yang ada sesuai dengan nomor ruangan. Misalnya kalian berada di ruanga nomor 9, maka tekan nomor 9 dan akan ada penjelasan tentang ruangan itu. Keren kan?

    Agak aneh sih karena didalam istana semua orang berjalan sambil memegang audio guide tersebut. Hahaha

    Selanjutnya tour memakan durasi sekitar 40 menit. Tapi nggak berasa lama karena ruangan di dalamnya bagus dan ada sejarah-sejarahnya. Pokoknya menurut kami bertiga ini sepadan dengan harganya deh! Recommended !

    Jangan lupa beli oleh-oleh dari Schonbrunn ini. Gue beli taplak gelas seharga kalo nggak salah 5 €. Saran gue sih beli yang edisi Schonbrunn aja. Kalau magnet atau embel-embel bertuliskan ‘Vienna’ bisa dibeli dengan harga lebih murah di tempat lain.

    Balik ke stasiun Schonbrunn kita langsung cuss ke Belvedere. Nah untuk ke Belvedere ini kita harus turun di Karlsplatz. Keluar dari Karlsplatz bakal ngeliat St.Charles Church lagi dan kemudian jalan ke belakangnya dikit dan ambil kanan aja sampai ketemu patung pahlawan, ikutin jalan dan akan menemukan banyak bendera-bendera bertuliskan ‘Belvedere’. ( sederhananya : google maps aja deh! )

    Belvedere dari luar

    Sesampainya di Belvedere, luarnya kurang menarik dan harga tiket masuk lumayan mahal sekitar 12€. Di dalam kita bisa melihat pameran lukisan. Tapi karena nantinya di Albertina Museum kita juga akan melihat pameran lukisan karya maestro-maestro dunia, kita jadi memutuskan nggak masuk dan langsung ke Albertina Museum aja.

    Tapi kalau mau tau tentang Belvedere ini bisa buka di websitenya;
    https://www.belvedere.at/en

    Dari Belvedere jalan balik ke arah St.Charles dan kemudian  berjalan ke arah State Opera. Dari sana tinggal berbelok sedikit dan akan ketemu Albertina Museum.


    lampu lalu lintas yang bikin baper

    Waktu di jalan menuju Albertina Museum gue melihat hotel Sacher. Menurut blog traveltarius ( baca entar  ) kue Sacher Torte khas dari Vienna adanya di hotel ini dan wajib dicoba kalau ke Vienna. Kita bertiga pun masuk. Ternyata untuk mendapat tempat duduk kita harus antri. Tapi antrinya nggak lama sih... karena tempat ini cuma untuk makan kue dan minum teh sebentar.

    The famous sacher torte

    apple struddle 

    Kita pun memesan satu potong kue Sacher torte dan satu apple struddle yang asalnya juga dari Vienna. Kenapa hanya pesan satu? Karena satu potong kue Sacher harganya 6€ atau setara dengan Rp.90,000,- !!

    Menurut gue kue Sacher ini rasanya biasa aja...hehehe... untuk pecinta coklat mungkin akan menjadi surga tersendiri. Bagi gue yang biasa saja dengan coklat, kue ini terlalu manis dan ada sedikit asam mungkin dari selai buah (?). Sedangkan apple struddle yang nggak kalah mahalnya bikin perut gue enek. Awalnya gigitan pertama, apple struddle ini terasa enak banget. Tapi lama-lama jadi enek dan malah nggak habis.

    Saran gue, jika memang mau mencoba kue Sacher dan apple struddle bisa bagi-bagi bertiga atau berempat kecuali kalian memang penggemar makanan manis.

    Lanjut ke Albertina Museum...
    Di Albertina Museum kalian bisa melihat karya-karya maestro dunia mulai dari masa renaissance, romantik sampai impresionisme. Contohnya karya Lenodaro Da Vinci dan Picasso.

    http://www.albertina.at
    Harga tiket masuk : 8.5 €.

    lukisan karya Pablo Picasso : Woman with a Green Hat

    Ketika gue melihat secara langsung lukisan-lukisan impresionist, jadi berasa banget ‘pemberontakan’ yang ada pada seniman-seniman masa itu. Tadinya semua harus terstruktur dan sesuai dengan realitas, namun pada masa impresionisme ini seniman-seniman lebih berani mengungkapkan perasaan yang terlintas dalam diri mereka.

    Oh ya, di Albertina Museum ini gue juga bertemu teman dekat gue sejak SMP yang kebetulan sedang melancong ke Vienna juga. Lama tak jumpa malah ketemu di Vienna. Lumayan, sedikit melepas rindu.

    temu kangen!


    Keluar dari museum Albertina, langit udah agak gelap. Kitapun pergi menuju sebuah cafe yang terkenal bernama ‘ Alt Wien’. Menurut pernyataan warga lokal, cafe ini adalah salah satu cafe tertua di Vienna. Menu yang paling terkenal adalah schnitzel. Kalian akan tahu sebentar lagi, apa itu schintzel...


    Cafe Alt Wien ini letaknya lumayan terpencil, maksudnya di jalan-jalan kecil gitu. Kalau mau kesini mending google maps dulu dari hostel atau kalau memang ada data di smartphone malah lebih baik.

    ini dia Schintzel alias babi goreng tepung (?)

    Setibanya di Cafe Alt Wien betul saja, interiornya otentik banget. Keliatan tua dan cozy. Tempatnya juga ramai dan hampir semua orang disitu memesan Schnitzel. Untuk harga Schintzel gue agak lupa, kalau tidak salah sekitar 10€.



    Bagi yang muslim, Schintzel tidak gue sarankan karena mengandung daging babi. Hehe...

    Tapi di Cafe Alt Wien ini juga ada pilihan lain tapi menunya dalam bahasa Jerman, jadi bersiaplah menerjemah satu persatu. Untuk penggemar kopi juga disarankan memesan kopi disini. Sayangnya gue nggak minum kopi, jadi tidak mencoba.

    Setelah kenyang, kami pun kembali ke hostel dan beristirahat.
    Besok kami akan kembali ke Zlin tapi sebelumnya mau melihat The Prater alias bianglala yang usianya udah tua banget. Kita juga mau berkunjung ke Toko Sederhana yang menjual makanan-makanan Indonesia :D

    Cerita hari ke-tiga akan gue ceritakan di postingan berikutnya....ok!

    Semoga terbantu,
    Enjoy :)

    Posting mengenai Vienna lainya : 


























    Continue Reading
    Setelah beres urusan perut, kita bertiga langsung jalan ke tujuan pertama yaitu Stadtpark. Tapi seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya ( baca entar ) u-bahn yang kita naikin ngga berhenti di stasiun Stadtpark tapi ngelewatin doang. Akhirnya kita memutuskan untuk turun di stasiun berikutnya yaitu Karlsplatz. Begitu keluar dari stasiun ternyata langit sudah agak gelap. Maklum udah sore sekitar jam 5.


    di stasiun u-bahn
    kita beli tiket untuk jangka waktu 48 jam seharga 13.3 €


    Awalnya kita berencana untuk jalan ke stadtpark, tapi karena kita hilang arah akhirnya kita jalan-jalan aja disekitar situ. Ternyata disekitar karlsplatz itu banyak atraksi turis yang harusnya kita datengin di hari ke-dua. Pertama setelah keluar dari stasiun kita akan melihat gereja St.Charles yang berdiri megah terus agak dramatis karena ada efek lampu + refleksi air dari kolam di depanya. Tapi entah kenapa kolam itu surut waktu kita dateng, mungin karena lagi winter (?).

    Gereja St.Charles dikala senja. Cocok buat tempat remaja galau.

    Waktu lonceng di gereja St.Charles ini berdentingan itu rasanya indaaaahhh banget. Dramatis deh! Dilengkapi sama burung-burung merpati terbang-terbang gitu dan langit warna biru laut. Ah Cakeeppp...!

    Setelah menikmati keindahan gereja St.Charles, kita melihat ada gedung Musikverein di seberang. Jadilah kita menyebrang kesana dan foto-foto. Atas rasa penasaran, kita bertiga mencoba masuk ke gedung mevvah itu. Ya, mevvah. Begitu masuk berasa seperti di sinetron yang ceritanya gadis kampung tiba-tiba dipinang dan jadi orang kaya, atau tiba-tiba ternyata gadis kampung tersebut adalah anggota kerajaan.


    Musikverein nan megah.

    Langit-langit di dalam Musikverrein.

    Saat lagi asyik foto-foto, tiba-tiba ada seorang pria berjas menghampiri kita. Lalu Ia bertanya, “Hello, How can I help you?” dengan nada kurang ramah. “No...thank you,” kata gue. Terus dia malah songong “If you don’t have anything here you can go out.” Dasar Kompeni! Akhirnya kita bertiga keluar dan sedikit ngedumel karena diusir. Padahal di dalem luas dan keberadaan kita juga tidak mengganggu. Hem... entahlah.

    Selanjutnya kita berjalan mencari gedung State Opera. Ditengah jalan ketemu semacam “warung” jadi kita makan dulu karena agak lapar. Gue beli mie goreng seharga 3.5 €.

    Dari warung itu kita udah bisa liat gedung State Opera yang megah. Akhirnya ketika sampai di depan gedung kita langsung foto-foto ala turis. Disana banyak turis Asia juga tentunya dengan tongkat selfie alias tongsis ;P

    Gedung State Opera.

    Ketika itu gue melihat sebuah toko di State Opera dan tertarik. Jadi kita bertiga masuk ke dalam toko tersebut. Sebelum masuk tiba-tiba seorang pria berjubah merah ala pegawai kerajaan menghampiri kita. Pria-pria semacam itu akan lo temukan di sekitar gedung State Opera dan St.Stephen Church.

    Dia menawarkan tiket nonton opera di Hofburg Palace dengan iming-iming harga murah dan tempat duduk di VIP. Tapi setelah berdiskusi kita bertiga males karena keliatan kurang bonafit. Akhirnya kita bilang “kita pikir-pikir dulu ya, mau liat-liat ke toko ini dulu.”

    Waktu kita keluar dan berusaha cepat-cepat menjauh dari si pria tadi, dia langsung manggil dan nyamperin dan nawarin lagi. Pura-pura telfon bosnya lah dan nanya ke temannya dia apakah dia boleh menjual tiketnya untuk kita nonton besok.

    Ini dia nih kelemahan orang Indonesia, kita sulit menolak! Tapi karena emang malesin banget dan harganya juga nggak murah sekitar 30€ jadi kita menolak. Akhirnya gue pun bilang dengan tegas “ No we don’t want to watch it today. We have booked another ticket for March” ( karena emang kita mau nonton bulan Maret di Praha.) Lalu biasa lah, dia langsung ngomong kata-kata yang nggak enak, “ If you don’t respect mozart it’s okay! Fuck you mother fucker!” dengan logat Eropanya.

    Yang harus dijauhi.
    Tipsnya : Pura-pura nggak ngerti dia ngomong apa.

    Hal itu bikin kita bertiga jadi ilfeel!! ( biasa deh cewek...gampang ilfeel ) Baru jam 7 tapi kita memutuskan untuk kembali ke hostel karena dengan demikian kita belajar harus menata perjalanan besok supaya tidak ditipu dalam hal harga tiket dan lain-lain.

    Setibanya di hostel kitapun merencanakan perjalanan di hari ke dua. Kita merencanakan di lounge yang tersedia di Meininger ini sambil makan sisa pizza dan mie goreng yang beli di warung tadi. Hehe

    Rencana perjalanan hari ke dua :
    -       Schonbrunn Palace
    -       Belvedere Palace
    -       Albertina Museum

    Cerita hari kedua akan gue ceritakan di postingan berikutnya !
    So stay tune!



    Semoga terbantu ya dengan postingan ini,

    Enjoy :)

    Posting mengenai Vienna lainya : 























    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me

    My photo
    Vivi Rans
    View my complete profile

    Featured Post

    Europe Travelling - Transportasi Untuk Keliling Eropa [ Bus ]

    Labels

    Life and Travel Cerita Cerita Exchange ke Ceko AUSTRIA Ceko Travel Tips Brno HUNGARIA JAPAN Olomouc & Ostrava PARIS SANTORINI Tulisan

    Blog Archive

    • April 2019 (1)
    • January 2019 (1)
    • August 2017 (1)
    • July 2017 (1)
    • January 2017 (1)
    • November 2016 (1)
    • July 2016 (2)
    • June 2016 (1)
    • May 2016 (2)
    • April 2016 (2)
    • March 2016 (3)
    • February 2016 (7)
    • January 2016 (1)

    Most Popular

    • Europe Travelling - Hotel, Hostel, Apartment, CouchSurfing, Pilih yang mana?
    • BUDAPEST, HUNGARIA - yang katanya indah (?)

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top